Minggu, 25 Maret 2012

Metode Penelitian Eksprimen

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah

Penelitian eksperimen merupakan penelitian yang dimaksudkan untuk mengetahui ada tidaknya akibat dari “sesuatu” yang dikenakan pada subjek selidik. Dengan kata lain penelitian eksperimen mencoba meneliti ada tidaknya hubungan sebab akibat. Caranya adalah dengan membandingkan satu atau lebih kelompok eksperimen yang diberi perlakuan dengan satu atau lebih kelompok perbandingan yang tidak menerima perlakuan.[1]
Contoh: Peneliti ingin melihat akibat (efek).

Penggunaan metode pemberian tugas untuk pelajaran sejarah di kelas II/A
Penggunaan metode tidak diberikan tugas untuk pelajaran sejarah di kelas II/B


                                                            Sebagai kelompok
                                                    perbandingan
 
Pada akhir semester prestasi sejarah anak-anak di  kedua kelas tersebut dibandingkan. Kalau ada perbedaan prestasi dari kelompok itu diperkirakan sebagai akibat dari pemberian tugas, itulah hasil dari pada penelitian eksperimen.


BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian Penelitian Eksperimen
Penelitian adalah suatu kegiatan untuk memecahkan masalah melalui serangkaian kegiatan yang sesuai dengan langkah-langkah metode ilmiah. Menurut Emzir penelitian eksperimen adalah suatu situasi penelitian dimana minimal satu variabel mendapatkan intervensi/manipulai dari peneliti[2].
Penelitian eksperimen didasarkan pada asumsi bahwa alam bekerja secara hukum kausal. Dalam penelitian ini, peneliti mengintervensi sedikitnya satu variabel, mengontrol variabel yang lain yang relevan, dan mengamati efek/pengaruhnya terhadap variabel yang lain. Variabel yang dikenai intervensi disebut variabel bebas, sedangkan variabel yang dipengaruhi disebut variabel terikat.
Ada tiga jenis penelitian eksperimen (Emzir, 2008: 96) berdasarkan desain pengambilan kelompok variabelnya, yaitu:
1.      Desain pra-eksperimen, pada penelitian ini yang diteliti adalah kelompok tunggal, dan tidak ada kelompok control. Jenis penelitian ini lebih tepat jika digunakan dalam penelitian sains. Misalnya akan diteliti apakah pemberian panas akan menyebabkan pemuaian pada logam secara linier.
2.      Desain eksperimen yang sebenarnya.
3.      Desain penelitian eksperimen semu (quasi experiment), pada penelitian ini pengambilan sampel tidak dilakukan secara acak.
Dari tiga desain penelitian eksperimen di atas, yang akan dibahas dalam makalah ini adalah penelitian eksperimen yang sebenarnya, pada bidang pendidikan.
A.      Karakteristik Penelitian
Ada tiga hal yang menjadi karakteristik penelitian eksperimental:
1.      Manipulasi, dimana peneliti menjadikan salah satu dari sekian variabel bebas untuk menjadi sesuai dengan apa yang diinginkan oleh peneliti, sehingga variabel lain dipakai sebagai pembanding yang bisa membedakan antara yang memperoleh perlakuan/manipulasi dengan yang tidak memperoleh perlakuan/manipulasi.
2.      Pengendalian, dimana peneliti menginginkan variabel yang diukur itu mengalami kesamaan sesuai dengan keinginan peneliti dengan menambahkan faktor lain ke dalam variabel atau membuang faktor lain yang tidak diinginkan peneliti dari variabel.
3.      Pengamatan, dimana peneliti melakukan suatu kegiatan mengamati untuk mengetahui apakah ada pengaruh manipulasi variabel (bebas) yang telah dilakukannya terhadap variabel lain (terikat) dalam penelitian eksperimental yang dilakukannya.

B.       Prosedur Penelitian
Prosedur penelitian eksperimental pada dasarnya sama dengan penelitian lain, yakni; memilih dan merumuskan masalah, memilih subyek dan instrumen pengukuran, memilih desain penelitian, melaksanakan prosedur, menganalisis data, dan merumuskan kesimpulan.

C.      Jenis-Jenis Desain Penelitian Eksperimental
Wiersma (1991) dalam mengemukakan kriteria-kriteria untuk suatu desain penelitian eksperimental yang baik, diantaranya;
·         Dasar untuk perbandingan dalam menentukan apakah terdapat pengaruh atau tidak
·         Informasi yang memadai dari data yang akan diambil untuk memutuskan hipotesis
·         Data yang diambil tidak terkontaminasi dan memadai dan mencerminkan pengaruh.
·         Keterwakilan dengan menggunakan randomisasi aspek-aspek yang akan diukur
·         Kecermatan terhadap karakteristik desain yang akan dilakukan[3]
Dengan demikian maka suatu desain eksperimental yang dipilih oleh peneliti membutuhkan perluasan terutama pada prosedur dari setiap penelitian yang akan dilakukan mengklasifikasikan desain eksperimental dalam dua kategori yakni:
1.      Desain Variabel Tunggal, yang melibatkan satu variabel bebas (yang dimanipulasi) yang terdiri atas;
·         Pra-Experimental Designs (non-designs)
·         Dikatakan pre-experimental design, karena desain ini belum merupakan eksperimen sungguh-sungguh. Hal ini disebabkan karena masih terdapat variabel luar yang ikut berpengaruh terhadap terbentuknya variabel terikat (dependen). Jadi hasil eksperimen yang merupakan variabel terikat (dependen) itu bukan semata-mata dipengaruhi oleh variabel bebas (independen).
Hal ini bisa saja terjadi karena tidak adanya variabel kontrol dan sampel tidak dipilih secara acak (random). Bentuk pra-experimental designs antara lain:
a. One-Shot Case Study (Studi Kasus Satu Tembakan)
Dimana dalam desain penelitian ini terdapat suatu kelompok diberi treatment (perlakuan) dan selanjutnya diobservasi hasilnya (treatment adalah sebagai variabel independen dan hasil adalah sebagai variabel dependen). Dalam eksperimen   ini subjek disajikan dengan beberapa jenis perlakuan lalu diukur hasilnya.
b. One Group Pretest-Posttest Design (Satu Kelompok Prates-Postes)
Kalau pada desain “a” tidak ada pretest, maka pada desain ini terdapat pretest sebelum diberi perlakuan. Dengan demikian hasil perlakuan dapat diketahui lebih akurat, karena dapat membandingkan dengan keadaan sebelum diberi perlakuan.
c. Intact-Group Comparison
Pada desain ini terdapat satu kelompok yang digunakan untuk penelitian, tetapi dibagi dua yaitu; setengah kelompok untuk eksperimen (yang diberi perlakuan) dan setengah untuk kelompok kontrol (yang tidak diberi perlakuan).
·         True Experimental Design
Dikatakan true experimental (eksperimen yang sebenarnya/betul-betul) karena dalam desain ini peneliti dapat mengontrol semua variabel luar yang mempengaruhi jalannya eksperimen. Dengan demikian validitas internal (kualitas pelaksanaan rancangan penelitian) dapat menjadi tinggi. Ciri utama dari true experimental adalah bahwa, sampel yang digunakan untuk eksperimen maupun sebagai kelompok kontrol diambil secara random (acak) dari populasi tertentu. Jadi cirinya adalah adanya kelompok kontrol dan sampel yang dipilih secara random. Desain true experimental terbagi atas :
a.       Posstest-Only Control Design
Dalam desain ini terdapat dua kelompok yang masing-masing dipilih secara random (R). Kelompok pertama diberi perlakuan (X) dan kelompok lain tidak. Kelompok yang diberi perlakuan disebut kelompok eksperimen dan kelompok yang tidak diberi perlakuan disebut kelompok kontrol.

b.      Pretest-Posttest Control Group Design
Dalam desain ini terdapat dua kelompok yang dipilih secara acak/random, kemudian diberi pretest untuk mengetahui keadaan awal adakah perbedaan antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol.
c.       The Solomon Four-Group Design
Dalam desain ini, dimana salah satu dari empat kelompok dipilih secara random. Dua kelompok diberi pratest dan dua kelompok tidak. Kemudian satu dari kelompok pratest dan satu dari kelompok nonpratest diberi perlakuan eksperimen, setelah itu keempat kelompok ini diberi posttest.
·         Quasi Experimental Design
Bentuk desain eksperimen ini merupakan pengembangan dari true experimental design, yang sulit dilaksanakan. Desain ini mempunyai kelompok kontrol, tetapi tidak dapat berfungsi sepenuhnya untuk mengontrol variabel-variabel luar yang mempengaruhi pelaksanaan experimen. Walaupun demikian, desain ini lebih baik dari pre-experimental design. Quasi Experimental Design digunakan karena pada kenyataannya sulit medapatkan kelompok kontrol yang digunakan untuk penelitian.
Dalam suatu kegiatan administrasi atau manajemen misalnya, sering tidak mungkin menggunakan sebagian para karyawannya untuk eksperimen dan sebagian tidak. Sebagian menggunakan prosedur kerja baru yang lain tidak. Oleh karena itu, untuk mengatasi kesulitan dalam menentukan kelompok kontrol dalam penelitian, maka dikembangkan desain Quasi Experimental. [4]


Desain eksperimen model ini diantarnya sebagai berikut:
a.         Time Series Desig.
Dalam desain ini kelompok yang digunakan untuk penelitian tidak dapat dipilih secara random. Sebelum diberi perlakuan, kelompok diberi pretest sampai empat kali dengan maksud untuk mengetahui kestabilan dan kejelasan keadaan kelompok sebelum diberi perlakuan. Bila hasil pretest selama empat kali ternyata nilainya berbeda-beda, berarti kelompok tersebut keadaannya labil, tidak menentu, dan tidak konsisten. Setelah kestabilan keadaan kelompok dapay diketahui dengan jelas, maka baru diberi treatment/perlakuan. Desain penelitian ini hanya menggunakan satu kelompok saja, sehingga tidak memerlukan kelompok kontrol.
b.         Nonequivalent Control Group Design
Desain ini hampir sama dengan pretest-posttest control group design, hanya pada desain ini kelompok eksperimen maupun kelompok kontrol tidak dipilih secara random. Dalam desain ini, baik kelompok eksperimental maupun kelompok kontrol dibandingkan, kendati kelompok tersebut dipilih dan ditempatkan tanpa melalui random. Dua kelompok yang ada diberi pretes, kemudian diberikan perlakuan, dan terakhir diberikan postes.
c.   Conterbalanced Design
Desain ini semua kelompok menerima semua perlakuan, hanya dalam urutan perlakuan yang berbeda-beda, dan dilakukan secara random.
2.      Desain Faktorial, yang melibatkan dua atau lebih variabel bebas (sekurang-kurangnya satu yang dimanipulasi).
Desain faktorial secara mendasar menghasilkan ketelitian desain true-eksperimental dan membolehkan penyelidikan terhadap dua atau lebih variabel, secara individual dan dalam interaksi satu sama lain.
Tujuan dari desain ini adalah untuk menentukan apakah efek suatu variabel eksperimental dapat digeneralisasikan lewat semua level dari suatu variabel kontrol atau apakah efek suatu variabel eksperimen tersebut khusus untuk level khusus dari variabel kontrol, selain itu juga dapat digunakan untuk menunjukkan hubungan yang tidak dapat dilakukan oleh desain eksperimental variabel tunggal.
D.      Statistik Untuk Penelitian
Dalam penalitian kuantitatif, biasanya peneliti melakukan pengukuran terhadap variabel dengan menggunakan instrument tertentu. Setelah itu peneliti melakukan analisis secara statististik untuk mencari hubungan antar variabel tersebut.
Variabel merupakan gejala yang menjadi fokus dalam penelitian. Variable merupakan suatu ukuran yang nilainya bervariasi. Tinggi, berat badan, sikap, latar belakang pendidikan, nilai, merupakan contoh variabel. Jika tinggi, berat badan, latar belakang pendidikan dari 30 orang sama, maka itu bukan merupakan suatu variabel. Ada dua macam variabel yang seringkali ditetapkan dalam penelitian pendidikan, yaitu: variabel bebas/independen dan variabel terikat/dependen. Variabel bebas adalah variabel yang menyebabkan berubahnya veriabel terikat. (Sugiyono: 3) Antara variabel bebas dan variabel terikat masing-masing tidak berdiri sendiri, tapi saling berpasangan.
Dalam penelitian eksperimen, statistik merupakan alat yang sangat penting. Statistik digunakan untuk menentukan besarnya sampel, mengumpulkan data, menyajikan data, dan menganalisis data. Berikut ini adalah beberapa statistik yang sering kali digunakan dalam penelitian pendidikan: (Sugiyono: 42-284)
1.      Mean/rata-rata, median, modus, simpangan baku/deviasi standar
2.      Analisis Korelasi: digunakan untuk melihat hubungan antara dua variabel
3.      Analisis Komparasi: digunakan untuk membandingkan dua variabel
4.      Analisis Regresi: digunakan untuk melihat besarnya pengaruh variable bebas thd variabel terikat.

CONTOH PENELITIAN EKSPERIMEN  1

Identitas peneliti:
Nama               :   Koko Triantoro
Judul tesis       Pembuatan Manisan Bahan Dasar Terong Sebagai Masakanan Khas Pendidikan IPA.
                            Program Pascasarjana, Universitas Negeri Yogyakarta, 2008.

A.       Latar Belakang Masalah
Masyarakat Indonesia yang bertempat tinggal di daerah pedesaan maupun pinggiran kota sebagian besar masih hidup dengan cara bertani dan berkebun, tentunya masyarakat yang bertempat tinggal di pedesaan maupun pinggiran kota sekalipun kurang mengetahui sektor perindustrian, sehingga bahan seperti terong yang ada disekitar kita kurang dimanfaatkan.
Tanaman yang tumbuh disekitar kita seperti terong, jika diamati secara langsung biasanya hanya dimanfaatkan sebagai sayur saja, dengan demikian pemanfaatan terong tersebut masih terbatas dan relatife sedikit. Terong yang dapat kita peroleh dengan sangat mudah sebenarnya dapat dimanfaatkan dan diolah menjadi manisan terong yang ternyata mempunyai nilai jual yang relatife tinggi bahkan menjadi peluang usaha yang sangat menarik dan dapat menyerap tenaga kerja serta memiliki prospek yang cerah.
Sejauh ini terong lebih banyak dikonsumsi dalam bentuk sayur, namun melihat potensi dan peluang pengembangan terong yang demikian besar serta manfaat yang dapat diperoleh dari terong, maka sudah saatnya dicanangkan gerakan pemanfaatan buah terong salah satu upaya yang dapat kita lakukan adalah Pembuatan Manisan Berbahan Dasar Terong sebagai Makanan Khas Pendidikan IPA. Nama bahan untuk pembuatan manisan terong sebagai makanan khas pendidikan IPA adalah sebagai berikut: terong dan gula pasir.


A.       Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah, maka rumusan masalah yang dimunculkan adalah sebagai berikut:

1.      Bagaimana proses pembuatan manisan terong sebagai makanan khas pendidikan IPA?
2.      Bagaimana bentuk kemasan manisan terong sebagai makanan khas pendidikan IPA?

B.       Tujuan Penelitian
Adapun tujuan yang ingin dicapai dari produk yang dihasilkan adalah sebagai berikut:
1.      Untuk mengetahui proses pembuatan manisan terong sebagai makanan khas pendidikan IPA.
2.      Untuk mengetahui kemasan manisan terong sebagai makanan khas pendidikan IPA.

C.       Kajian Pustaka
a.         Terong
1.    macam-macam buah terong (Solanum melongena L )
Berdasarkan buah terong yang ada, maka macam-macam buah terong adalah sebagai berikut:
§  terong Telunjuk
Orang menyebutnya terong telunjuk karena bentuknya memang mirip jari telunjuk. Warnanya hijau dan tidak terlalu besar. Cocok diolah menjadi semur, balado atau dipecak terong.
§  terong Gelatik Ungu
Sebagian orang menyebutnya terong lalap karena biasanya dimakan mentah sebagai lalapan. Rasanya tidak pahit dan aromanya tidak terlalu langu. Bentuknya bulat sebesar bola bekel berwarna ungu.



§  gelatik Putih
Bentuk dan besarnya sama dengan gelatik ungu. Perbedaan terletak pada warna kulit yang hijau dengan semburat putih pada bagian ujung buah. Cocok untuk sebagai lalapn atau diolah menjadi terancam dan karedok.
§  terong Kopek
Ada dua jenis terong kopek, warna hijau dan ungu. Terong ini paling banyak dikonsumsi masyarakat sebagai bahan sayur lodeh, disemur atau dibuat balado.
§  terong Jepang
Banyak digunakan masyarakat Jepang sebagai bahan membuat tempura sayuran. Bentuknya mirip dengagn terong kopek namun dengan warna lebih gelap (ungu tua) dan lebih kecil.
§  tekokak dan Leunca
Tekokak (Solanum Torvum) dan Leunce (Solanum Nigrum), keduanya termasuk keluarga terong namun bentuknya mini. Masyarakat sunda mengkonsumsinya sebagai lalapan, dimasak dengan oncom/ taoco sebagai campuran botok
§  terong Putih
Terong pendatang baru yang belum banyak di pasaran. Bentuknya hampir sama dengan terong Jepang namun sedikit lebih besar. Warna kulit putih bersih, sangat lezat diolah sebagai tumisan, diisi daging atau campuran olahan pasta.
§  terong Belanda
Terong Belanda (Cyphomandra betacea) lebih banyak dikonsumsi sebagai buah, baik dimakan segar, dibuat sirup atau dijuice. Bentuknya oval sebesar telur. Sewaktu muda warnanya kuning dan seiring dengan matangnya buah, kulit buah berubah menjadi keunguan. Terong ini rasanya asam menyegarkan.[5]


2.      klasifikasi buah terong
Berdasarkan macam-macam buah terong yang ada, maka buah terong dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
Divisi
Spermatophyta
Sub divisi
Angiospermae
Kelas
Dicotyledonae
Bangsa
Solanales
Suku
Solanaceace
Marga
Solanum
Jenis
Solanum melongena L

Deskripsi
Batang

Bulal, berkayu, percabangan simpodial, berambut,
berduri, putih kotor.
Daun

Tunggal, bulat telur, ujung runcing, pangkaf berlekuk, tepi berombak, panjang 3-15 cm, iebar 2-9 cm, pertulangan menyirip, hijau.
Bunga

Majemuk, berseling, kelopak bertaju iima, berambut,
bentuk lonceng, hijau pucat, mahkota bertaju lima,
sisi luar berambut bintang, kepala sari kunmg,
tangkai putik berambut, putih, kepala putik hijau,
ungu.
Buah
Buni, bulat, hijau.
Biji
Pipih, kecil, licin, kuning
Akar
Tunggang, coklat muda

3.      manfaat dan kandungan terong (Solanum melongena L )
Terong yang didesas desuskan dapat menimbulkan impotensi ternyata berpotensi sebagai penyembuh berbagai penyakit yang saat ini hangat dibicarakan. Di Nigeria, buah terong mendapat tempat yang cukup baik di masyarakat. Khasiat buah terong yang sering dilalap ini adalah sebagai zat anti rematik. Pengobatan tradisional di Nigeria percaya khasiat lain dari buah terong dapat menyembuhkan atau setidaknya mengurangi serangan rematik tertentu.
Bahkan tidak hanya di Nigeria, di Korea pun terong dikenal punya keajaiban untuk mengobati beberapa gangguan kesehatan. Fungsi lain dari terong adalah sebagai obat anti-kejang yang relatife sulit diketahui dengan pasti kapan terjadi serangannya. Selain itu di Nigeria, terong juga dipercaya sebagai obat untuk meredam penyakit gugup. Manfat pengusir kepanikan ini telah dibuktikan secara ilmiah terhadap marmot dengan menggunakan sari terong mentah. Terong yang mengandung striknin dan skopolamin, juga skopoletin dan skoparon yang berfungsi sebagai penghambat serangan sawan dan gugup. Jadi jelaslah sudah bahwa terong dapat mengobati penyakit epilepsi.
Fungsi lain dari buah terong adalah dapat menekan kerusakan yang timbul pada sel-sel dengan penyimpangan kromoson sebagai petunjuk adanya kanker. Penguji terakhir yang dilakukan di Jepang menunjukan jus terong, yang dapat menekan kerusakan pada sel-sel tersebut. Kandungan protease (tripsin) pada terong dipercaya dapat menolong malawan serangan zat penyebab kanker. Pada penelitian yang lebih spesifik, terong dikatakan bagus untuk mengurangi risiko penyakit kanker perut. Dr. GHA Mitschek, seorang ilmuwan dari Universitas Graz telah melakuakn pemeriksaan berseri terhadap hewan sampai beberapa kali, ternyata menemukan hasil yang sama baiknya akan menfaat terong. Peneliti ini telah memberikan diet tinggi kolestrol pada beberapa beberapa kelinci dan juga memberikan terong dalam jumlah bervariasi. Meskipun dosis yang diberikan tidak terlalu besar ternyata terong mampu menghambat pembentukan plak-plak lemak, mencegah dan mengobati ateroklerosis. Selain itu ditemikan juga bahwa terong dapat menghambat atau membatasi asupan kolesterol dalam saluran cerna, bahkan mampu mengangkat kolesterol yang terdapat dalam alirang darah. (saftarina / berbagai sumber).


Kandungan gizi terong (dalam 100 gram)
No
Kandungan
Banyaknya
1.
Kalori
24 kal
2.
Lemak
1,1 g
3.
Karbohidrat
5,5 g
4.
Kalsium
15 mg
5.
Fosfor
37 mg
6.
Zat Besi
0,4 mg
7.
Vitamin A
30 SI
8.
Vitamin B1
0,04 mg
9.
Vitamin C
5 mg
10.
Air
92,7 g
Sumber: DKBM, 1992 http://www.indomedia.com/sripo/2003/06/22/2206bog1.htm)
b.      Gula Pasir
1.      Pengertian gula pasir
Gula adalah bahan kimia higroskopik yang berarti akan menyerap air dalam udara. (John Wiley & Sons, Inc, 2003: 65). Gula merupakan sejenis pemanis yang telah digunakan oleh manusia sejak 2000 tahun dahulu untuk mengubah rasa dan sifat makanan dan minuman. Dalam kegunaannya, orang-orang yang bukan ahli sains menggunakan perkataan "gula" untuk bermaksud sukrosa atau sakarosa yang merupakan disakarida berhablur yang berwarna putih. Gula yang dibuat secara dagangan datang dari pada pokok tebu atau pokok bit gula. Dalam senarai ramuan, mana-mana satu perkataan yang berakhir denga "osa" mungkin merupakan gula. Dalam istilah masakan, gula dikenali sebagai makanan yang memberikan rasa manis.
2.      kandungan gula pasir
GULA merupakan sembilan bahan pokok kebutuhan rumah tangga yang tidak pernah lepas dari sorotan masyarakat. Tak kalah heboh dari kelangkaan minyak goreng, kelangkaan gula di pasaran juga kerap bikin pejabat negara pusing tujuh keliling untuk memutuskan apakah sudah waktunya membuka keran impor atau tidak.
Butiran manis itu memang sudah lekat dalam keseharian kita. Pagi hari, kita biasa menyeruput segelas teh atau kopi yang diseduh dengan gula. Saat makan siang, lauk atau sayur yang kita santap juga biasanya dibubuhi gula sebagai penyedap. Hingga malam hari, jika lembur, kita akan kembali menyeruput seduhan kopi dan gula. Apa jadinya kalau sehari saja kita tak bisa mengkonsumsi gula? Cuma, sadarkah Anda kalau gula bukan sebatas pemanis di mulut saja? Gula memiliki banyak manfaat bagi tubuh.Tapi, jika konsumsinya berlebihan, dia akan berbalik jadi sumber penyakit.
Para ahli gizi menggolongkan gula yang biasa kita konsumsi sebagai gula sederhana (simple sugar). Gula sederhana ini tidak mengandung zat gizi lainnya, seperti vitamin atau mineral. Ada lagi kelompok gula lain, yakni gula kompleks (complex sugar) yang memiliki beberapa zat gizi lain seperti vitamuin dan mineral. Ada pun yang masuk golongan complex sugar adalah makanan yang mengandung zat pati seperti nasi, jagung, gandum, dan singkong.
Baik gula sederhana ataupun gula kompleks, semuanya adalah sumber karbohidrat yang oleh tubuh akan diolah menjadi glukosa. Glukosa inilah yang yang akan menjadi makanan bagi sel-sel tubuh manusia. Bahkan, “Otak kita itu makanannya glukosa dan oksigen. Seseorang tidak mempunyai kemampuan beraktivitas kalau tidak memiliki glukosa,” jelas Ali Khomsan, dosen Fakultas Ekologi Manusia Departemen Gizi Masyarakat Institut Pertanian Bogor (IPB). Itulah sebabnya, setelah memakan makanan yang manis-manis, kita sering kali 11
merasa lebih tenang, dan bisa belajar dan berpikir dengan lebih cepat. Satu hal lagi, gula sederhana termasuk golongan monosakarida, sehingga waktu yang dibutuhkan untuk berproses menjadi glukosa menjadi lebih singkat. Hal ini karena gula hanya memiliki satu molekul saja. Biarpun ada banyak jenis gula, seperti gula pasir, gula merah, atau gula jagung, kandungan gizinya tetap serupa. Bila sudah dicerna tubuh, semua ragam gula itu akan berubah jadi glukosa dan fruktosa. “Meskipun bentuk dan warnanya berbeda-beda, tapi kandungannya tetap sama,” kata Sidartawan Soegondo, Ketua Persatuan Diabetes Indonesia. Yang harus kita ingat, selain gula sederhana dengan berbagai bentuk tersebut, banyak pula jenis makanan lain yang juga mengandung glukosa. Misalnya, es krim, minuman soda, nasi padang, donat, mi ayam atau bakso, semuanya mengandung zat gula, juga pastilah mengandung gula.
D.      Hasil yang Akan Dicapai
Hasil yang diharapkan dalam penelitian ini adalah Pemanfaatan Terong Sebagai Pembuatan Manisan Sebagai makanan Khas Pendidikan IPA dari bahan dasar Terong dan gula pasir yang mempunyai nilai ekonomi yang tinggi, serta dapat dijadikan sebagai mata pencaharian sampingan bagi masyarakat di Indonesia.
E.       Mekanisme Pencapaian Tujuan
Dalam penelitian ini diharapkan akan menghasilkan Manisan Terong sebagai makanan khas Pendidikan IPA dengan bahan dasar terong dan gula pasir. Adapun dalam mencapai tujuan pembuatan produk, dilakukan melalui mekanisme atau prosedur di bawaqh ini :
1.         Observasi Lapangan
Observasi lapangan dilakukan dalam dua bagian yaitu observasi pasar dan observasi produk. Observasi dilakukan untuk mengetahui produk manisan terong yang ada dilapangan. dari hasil observasi, ternyata belum ditemukan produk yang berupa manisan terong. Oleh karena itu dengan melihat pasar akan diperoleh gambaran pemasaran dari manisan terong.








2.      Pelaksanaan
Prosedur pembuatan manisan terong sebagai makanan khas pendidikan IPA disajikan pada bagan di bawah ini.
Buah Terong

Dibelah-belah

Dipotong-potong

Dicuci

Direbus

Dijemur

Gula Diopen/ dipanaskan
Bagan Prosedur pembuatan manisan terong sebagai makanan khas pendidikan IPA.
3.      Uji Coba Pada Konsumen
Uji coba pada konsumen dengan cara memberikan secara gratis kepada konsumen.
4.      Pengemasan
Pengemasan dilakukan dalam bentuk kotak
5.      Pemasaran
Pemasaran pada konsumen dengan cara menitipkan atau menjual kepada pedagang eceran.
F.       Indikator Kinerja
Indikator keberhasilan dari penelitian ini adalah terciptanya produk berupa pemanfaatan sumber daya alam buah terong menjadi manisan terong sebagai makanan khas pendidikan ipa yang awalnya hanya dijadikan sebagai makanan sehari yaitu sayur terong. Penelitian ini dapat difungsikan sebagai manisan terong sebagai khas makanan pendidikan ipa yang dapat mendatangkan ekonomi lebih bagi mahasiswa pendidikan ipa tersebut, serta dapat memenuhi kebutuhan masyarakat Indonesia pada umumnya dan di Yogyakarta pada khususnya.
G.      Sumber Daya yang Dibutuhkan
a.       bahan-bahan pembuatan manisan terong
1.         terong
2.         gula pasir
b.      alat-alat
1.         kompor
2.         pisau
3.         panci
4.         piring
5.         mangkuk
6.         korek api
c.       personil
Satu orang
d.      tempat
Penelitian ini dilakukan di dapur pondok pesantren Al-Luqmaniyyah Yogyakarta.
H.    Keberlanjutan
1.      Aspek Feasibility (aspek kemudahan)
Dilihat dari pembuatan, manisan terong bisa dilakukan secara mudah. Hal ini bisa dilihat dari bagan prosedur pembuatan (halaman...
2.      Aspek orosinalitas
Salah satu aspek yang sangat penting dalam memunculkan produk adalah tingkat orisinilitas ide sehingga mempu menjadi daya saing produk di pasaran. Manisan terong produk baru yang belum ada pasarannya.



CONTOH PENELITIAN EKSPERIMEN 2

Identitas peneliti:
Nama               :   Ayu Putri Ardhani
Judul tesis       :  Keefektifan Penggunaan Media Anagram dalam Pembelajaran   Kosa Kata Bahasa Indonesia.
                            Program Pascasarjana, Universitas Negeri Yogyakarta, 2010.

A.      Latar Belakang Masalah

             Penguasaan sebuah bahasa oleh seorang anak dimulai dengan perolehan bahasa pertama yang sering kali disebut bahasa ibu. Di Indonesia, pada umumnya bahasa Indonesia adalah bahasa kedua yang secara politis juga berstatus sebagai bahasa nasional dan bahasa resmi kenegaraan. Akan tetapi, di beberapa tempat seperti di kota-kota besar di Indonesia, bahasa Indonesia dipakai sebagai bahasa pertama.
             Bagi anak yang memakai bahasa pertamanya bahasa daerah, pengajaran bahasa kedua secara formal dimulai ketika anak memasuki pendidikan dasar. Ketika anak yang bahasa pertamanya bahasa daerah sudah mulai mempelajari bahasa Indonesia, mereka akan merasa kesulitan karena sudah terbiasa dengan pola-pola bahasa pertamanya. Berbeda halnya dengan anak yang memakai bahasa pertamanya bahasa Indonesia, mereka akan lebih mudah untuk mempelajari bahasa Indonesia karena mereka sudah terbiasa menggunakan bahasa tersebut.
             

B.       Identifikasi Masalah

a.      Kemampuan siswa dalam berbahasa Indonesia termasuk kosakata siswa SD masih rendah.
b.      Anak-anak yang terbiasa berbahasa daerah mengalami kesulitan dalam mempelajari bahasa Indonesia.
c.      Banyak media yang dapat digunakan guru untuk mengatasi kesulitan belajar, tetapi belum dimanfaatkan secara optimal.
d.     Para guru kurang mengetahui keefektifan penggunaan media permainan kata, salah satunya yaitu media anagram, sehingga guru kurang memanfatkan media tersebut dalam pembelajaran kosakata.
e.      Siswa sering mengalami kejenuhan dalam proses belajar mengajar, untuk itu dibutuhkan variasi media pendidikan yang dapat meningkatkan motivasi dan minat siswa dalam belajar.

C.    Pembatasan Masalah

Penelitian ini dibatasi pada keefektifan pengajaran kosakata bahasa Indonesia dengan menggunakan media anagram bagi siswa kelas III SD yang terbiasa berbahasa  daerah dan bahasa Indonesia.

D.     Rumusan  Masalah

a.      Apakah prestasi belajar kosakata siswa kelas III SD yang terbiasa berbahasa Indonesia yang diajar menggunakan media anagram lebih baik dibandingkan dengan siswa yang diajar tanpa menggunakan media anagram?
b.      Apakah prestasi belajar kosakata siswa kelas III SD yang terbiasa berbahasa daerah yang diajar menggunakan media anagram lebih baik dibandingkan dengan siswa yang diajar tanpa menggunakan media anagram?
c.      Apakah prestasi belajar kosakata pada siswa kelas III SD yang terbiasa berbahasa daerah dan siswa yang terbiasa berbahasa Indonesia yang diajar menggunakan media anagram lebih baik daripada yang diajar tanpa menggunakan media anagram?
d.     Apakah media anagram lebih efektif digunakan dalam pembelajaran kosakata bahasa Indonesia bagi siswa kelas III SD yang terbiasa berbahasa Indonesia daripada siswa yang terbiasa berbahasa daerah?
e.      Apakah ada kecenderungan interaksi antara media pembelajaran dengan kebiasaan berbahasa terhadap hasil belajar kosakata bahasa Indonesia?

E.    Tujuan Penelitian

a.       Untuk mengetahui keefektifan penggunaan media anagram dalam  pengajaran kosakata bagi siswa kelas III yang terbiasa berbahasa Indonesia.
b.      Untuk mengetahui keefektifan penggunaan media anagram dalam  pengajaran kosakata bagi siswa kelas III yang terbiasa berbahasa daerah.
c.       Untuk mengetahui apakah prestasi belajar kosakata pada siswa kelas III SD yang terbiasa berbahasa daerah dan berbahasa Indonesia yang diajar menggunakan media anagram lebih baik daripada yang diajar tanpa menggunakan media anagram
d.      Untuk mengetahui apakah media anagram lebih efektif digunakan dalam pembelajaran kosakata bahasa Indonesia bagi siswa kelas III SD yang terbiasa berbahasa Indonesia daripada siswa yang terbiasa berbahasa daerah?
e.       Untuk mengetahui apakah terdapat kecenderungan interaksi antara media pembelajaran dengan kebiasaan berbahasa terhadap hasil belajar kosakata bahasa Indonesia.

F.    Manfaat Penelitian

a.       Manfaat Teoretis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai pengembangan teori tentang media pendidikan.
b.      Manfaat Praktis
Penelitian ini diharapkan dapat dimanfatkan oleh para guru SD, khususnya guru bahasa Indonesia tentang penggunaan media pengajaran, yakni media anagram sebagai alat bantu pembelajaran kosakata bahasa Indonesia.

G.   Landasan Teori

a.       Media Anagram
Anagram adalah kegiatan mengubah susunan huruf pada suatu kata untuk membentuk kata lain. Anagram merupakan salah satu media berupa permainan kata yang dapat dipakai dalam pengajaran kosakata (Tarigan, 1989:256). Contoh:
            raga                    agar ; murah                  harum, rumah
Kemudian bentukan kata seperti di atas dapat diterapkan dalam frasa atau kalimat.
b.      Pembelajaran Kosakata
1)      Pengertian Kosakata
2)      Pembelajaran Kosakata
c.       Kerangka Pikir
Pembelajaran kosakata menggunakan media anagram sangat tepat dibandingkan dengan pembelajaran tanpa menggunakan media  anagram untuk diterapkan pada kelompok siswa yang biasa berbahasa Indonesia maupun siswa yang berbahasa daerah. Hal tersebut terjadi karena penggunaan anagram dilakukan dengan cara bermain sambil belajar, sehingga sangat membantu siswa untuk mudah menerima pesan materi pelajaran kosakata yang diberikan.

H.    Hipotesis Penelitian

a.       Prestasi belajar kosakata siswa kelas III SD yang terbiasa berbahasa Indonesia yang diajar menggunakan media anagram lebih tinggi dibandingkan dengan siswa yang diajar tanpa menggunakan media anagram.
b.      Prestasi belajar kosakata siswa kelas III SD yang terbiasa berbahasa daerah yang diajar menggunakan media anagram lebih tinggi dibandingkan dengan siswa yang diajar tanpa menggunakan media anagram.
c.       Prestasi belajar kosakata siswa kelas III SD yang terbiasa berbahasa daerah dan berbahasa Indonesia yang diajar menggunakan media anagram lebih tinggi daripada yang diajar tanpa menggunakan media anagram.
d.      Prestasi belajar kosakata bahasa Indonesia yang diajar menggunakan media anagram pada siswa kelas III SD yang terbiasa berbahasa Indonesia lebih tinggi dibandingkan dengan siswa yang terbiasa berbahasa daerah.
e.       Ada kecenderungan interaksi antara media pembelajaran dengan kebiasaan berbahasa terhadap hasil belajar kosakata bahasa Indonesia.

I.     Metode Penelitian

a.      Jenis Penelitian
            Metode penelitian yang akan digunakan dalam penelitian ini yaitu metode eksperimen. Namun, karena dalam penelitian ini subjek tidak ditentukan secara acak, maka metode eksperimen yang digunakan merupakan eksperimen semu atau quasi experimental design (Ibnu Hadjar, 1996: 334).
b.       Desain Penelitian
Penelitian eksperimen ini menggunakan Factorial Design atau rancangan faktorial 2 x 2, yaitu desain penelitian yang memperhatikan kemungkinan adanya variabel moderator yang mempengaruhi perlakuan (variabel bebas) terhadap hasil (variabel terikat). Desain faktorial tersebut digambarkan sebagai berikut.
Tabel 1
Rancangan Analisis Faktorial 2 x 2
Kebiasaan Berbahasa
Penggunaan Media Anagram
(A1)
Tanpa menggunakan Media Anagram
(A2)
Siswa  terbiasa berbahasa Indonesia (B1)
A1 B1
A2 B1
Siswa yang terbiasa berbahasa daerah (B2)
A1 B2
A2 B2
Keterangan:
A1          :  Pengajaran kosakata menggunakan media anagram
A2        :  Pengajaran kosakata tanpa menggunakan media anagram
B1        :  Siswa yang terbiasa berbahasa Indonesia
B2        :  Siswa yang terbiasa berbahasa daerah
Tahap-tahap yang dilakukan dalam penelitian ini adalah: (a) melakukan prasurvei, (b) pembuatan instrumen, validasi instrumen dan uji coba instrumen, (c) melakukan survei penelitian, (d) mengadakan koordinasi dengan guru, (e) melakukan pretes, (f) pemberian perlakuan eksperimental pada kelompok eksperimen dengan menerapkan media anagram dalam pengajaran kosakata bahasa Indonesia, (g) memberikan postes pada masing-masing kelompok penelitian, dan (h) analisis data.
c.       Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini akan dilaksanakan di empat SD yaitu SD Tarakanita Bumijo dan SD Budya Wacana (kelompok siswa yang terbiasa berbahasa Indonesia), SD Negeri 2 Taji dan SD Negeri 1 Keputran (kelompok siswa yang terbiasa berbahasa daerah). Treatment atau pemberian perlakuan pada masing-masing kelompok dilakukan oleh guru yang sudah direkrut dengan mengikuti jadwal pelajaran di masing-masing kelas yang bersangkutan.
d.      Subjek Penelitian
Subjek penelitian ini yaitu siswa kelas III SD Tarakanita Bumijo (1 kelas), SD Budya Wacana (1 kelas), SD N 2 Taji (1 kelas),dan SD N 1 Keputran (1 kelas) yang berjumlah 123 siswa.
e.       Variabel Penelitian
Dalam penelitian ini ada tiga variabel yang terdiri dari variabel terikat, variabel bebas. Variabel-variabel tersebut antara lain:
1)      Variabel Dependen (terikat)
Y = prestasi belajar kosakata bahasa Indonesia (Y).
2)       Variabel Independen (bebas)
X1 = media pembelajaran, yang terdiri dari:
A1 = menggunakan media anagram
A2 = tanpa menggunakan media anagram
 X2 = kebiasaan berbahasa, yang terdiri dari:
B1 = siswa yang terbiasa berbahasa Indonesia
B2 = siswa yang terbiasa berbahasa daerah

f.       Teknik dan Instrumen Pengumpulan Data
1)      Teknik Pengumpulan Data
Data yang dibutuhkan dalam penelitian ini adalah data tentang kebiasaan berbahasa siswa dan prestasi belajar kosakata bahasa Indonesia siswa. Berdasarkan data yang dikumpulkan, maka teknik pengumpulan data yang digunakan adalah; mengadakan pretes pada masing-masing kelompok, memberikan treatment pada kelompok eksperimen, dan yang terakhir memberikan postes pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol.
2)      Instrumen Pengumpulan Data
Guna mengungkap prestasi belajar kosakata bahasa Indonesia siswa, instrumen yang digunakan adalah tes prestasi belajar kosakata bahasa Indonesia. Tes dilakukan untuk mengungkapkan hasil belajar siswa sebelum dan sesudah pemberian perlakuan. Bentuk tes berupa tes objektif dengan 4 (empat) pilihan jawaban.
g.      Validasitas dan Reliabilitas Instrumen
Instrumen dalam penelitian ini meliputi instrumen pembelajaran dan instrumen pengumpul data. Guna memenuhi validitas tampilan digunakan teknik expert judgement dan guna memenuhi validitas logisnya dibuat kisi-kisi tabel spesifikasi tes yang menggambarkan domain hasil belajar yang diukur.
Instrumen tes divalidasi dengan teknik expert judgement untuk memenuhi validitas dari segi tampilannya. Para pakar yang dilibatkan dalam validasi instrumen dalam hal ini dari segi materi adalah Prof. Dr. Haryadi, M.Pd., guru kelas III SD Tarakanita, dan guru kelas III SD 2 Taji. Guna mengestimasi reliabilitas instrumen, instrumen tes diujikan satu kali pada sekelompok siswa yang memiliki kualifikasi mendekati sama dengan subjek penelitian, kemudian besarnya koefisien reliabilitas instrumen dihitung menggunakan iteman version 3.00.




h.      Teknik Analisis Data
Data hasil tes dianalisis melalui tiga tahap, yaitu tahap deskripsi data, tahap uji persyaratan analisis, dan tahap pengujian hipotesis. Teknik analisis data yang digunakan untuk pengujian hipotesis adalah dengan teknik analisis varians (ANAVA) dua jalur.

J.     Hasil Penelitian

Pengujian dilakukan dengan menggunakan tehnik Analisis Variansi dua jalur untuk desain faktorial 2 x 2.
Pengambilan keputusan dan penarikan kesimpulan terhadap uji hipotesis dilakukan pada taraf signifikansi 5 %.  Rangkuman hasil analisis tersebut disajikan dalam Tabel 2 berikut.

Tabel 2
Rangkuman Hasil Analisis Variansi Dua Jalur
                                                                      
            Source
Type III Sum of Squares
df
Mean Square
F
Sig.
Partial Eta Squared
Corrected Model
1077.481(a)
3
359.160
55.570
.000
.583
Intercept
60790.185
1
60790.185
9405.591
.000
.988
kebiasaan_berbahasa
28.015
1
28.015
4.335
.039
.035
Media
1017.653
1
1017.653
157.453
.000
.570
kebiasaan_berbahasa * media
20.252
1
20.252
3.133
.079
.026
Error
769.120
119
6.463



Total
62884.000
123




Corrected Total
1846.602
122










                                                             Tabel 3
Rata-rata Hasil Belajar Kosakata Bahasa Indonesia
antara Siswa yang Terbiasa Berbahasa Indonesia dan Berbahasa Daerah

Kebiasaan Berbahasa
Media
Mean
N
Terbiasa berbahasa Indonesia (B1)
Media anagram (A1)
26.00
32
Tanpa Media anagram (A2)
19.43
30
Total
22.82
62
Terbiasa berbahasa daerah (B2)
Media anagram (A1)
24.23
30
Tanpa Media anagram (A2)
19.29
31
Total
21.72
61
Total
Media anagram (A1)
25.15
62
Tanpa Media anagram (A2)
19.36
61
Total
22.28
123


Berdasarkan rangkuman hasil Analisis Variansi dua jalur dan rata-rata hasil belajar pada tiap kelompok penelitian pada Tabel 2 dan Tabel 3 di atas maka dapat dirumuskan hasil uji hipotesis sebagai berikut.
a.      Uji Hipotesis Pertama
H0: µA1B1 = µA2B1 (Rata-rata prestasi belajar kosakata siswa kelas III SD yang terbiasa berbahasa Indonesia yang diajar menggunakan media anagram tidak lebih tinggi dibandingkan dengan siswa yang diajar tanpa menggunakan media anagram
H1 : µA1B1 >µA2B1 (Rata-rata prestasi belajar kosakata siswa kelas III SD yang terbiasa berbahasa Indonesia yang diajar menggunakan media anagram lebih tinggi dibandingkan dengan siswa yang diajar tanpa menggunakan media anagram).
Untuk menguji hipotesis ini, digunakan analisis variansi dua jalur. Dari hasil perhitungan didapat Fhitung = 4,335 dengan peluang kesalahan 0,039. Pada taraf signifikansi 5% didapat Ftabel = 3,94. Karena  Ftabel < Fhitung dan peluang kesalahannya lebih kecil dari taraf signifikansi yang ditetapkan yaitu 0.05, maka dapat diambil keputusan bahwa H0 ditolak H1 diterima. Artinya, hipotesis ”Rata-rata prestasi belajar kosakata siswa kelas III SD yang terbiasa berbahasa Indonesia yang diajar menggunakan media anagram lebih tinggi dibandingkan dengan siswa yang diajar tanpa menggunakan media anagram” dapat diterima.

b.      Uji Hipotesis Kedua
H0:µA1B1 = µA2B1 (Rata-rata prestasi belajar kosakata siswa kelas III SD yang terbiasa berbahasa daerah yang diajar menggunakan media anagram tidak lebih tinggi dibandingkan dengan siswa yang diajar tanpa menggunakan media anagram).
H1 :µA1B2 >µA2B2 (Rata-rata prestasi belajar kosakata siswa kelas III SD yang terbiasa berbahasa daerah yang diajar menggunakan media anagram lebih tinggi dibandingkan dengan siswa yang diajar tanpa menggunakan media anagram).
Untuk menguji hipotesis ini, digunakan analisis variansi dua jalur. Dari hasil perhitungan didapat Fhitung = 4,335 dengan peluang kesalahan 0,039, dan Ftabel  = 3,94 dengan taraf signikansi 5%. Karena Fhitung > Ftabel dan peluang kesalahannya lebih kecil dari taraf signifikansi 5% yang ditetapkan, maka dapat diambil keputusan bahwa H0 ditolak dan H1 diterima.

c.       Uji Hipotesis Ketiga
Ho :  A1B1 A1B2 = A2B1 A2B2 (Rata-rata prestasi belajar  kosakata pada siswa kelas III SD yang terbiasa berbahasa daerah dan berbahasa Indonesia yang diajar menggunakan media anagram tidak lebih tinggi daripada yang diajar tanpa menggunakan media anagram)
H1 :  A1B1 A1B2 > A2B1 A2B2 (Rata-rata prestasi belajar  kosakata pada siswa kelas III SD yang terbiasa berbahasa daerah dan berbahasa Indonesia yang diajar menggunakan media anagram lebih tinggi daripada yang diajar tanpa menggunakan media anagram).
Untuk menguji hipotesis ini, digunakan analisis variansi dua jalur. Dari hasil perhitungan didapat Fhitung = 4,335 dengan peluang kesalahan 0,039, dan Ftabel  = 3,94 dengan taraf signikansi 5%. Karena Fhitung > Ftabel dan peluang kesalahannya lebih kecil dari taraf signifikansi 5% yang ditetapkan, maka dapat diambil keputusan bahwa H0 ditolak dan H1 diterima.

d.      Uji Hipotesis Keempat
            H0: A1B1= A1B2 (Rata-rata prestasi belajar kosakata bahasa Indonesia menggunakan media anagram pada siswa kelas III SD yang terbiasa berbahasa Indonesia tidak lebih tinggi daripada siswa yang terbiasa berbahasa daerah)
            H1: A1B1 >  A1B2 (Rata-rata prestasi belajar kosakata bahasa Indonesia menggunakan media anagram pada siswa kelas III SD yang terbiasa berbahasa Indonesia  lebih tinggi daripada siswa yang terbiasa berbahasa daerah).
Untuk menguji hipotesis ini, digunakan analisis variansi dua jalur. Dari hasil perhitungan didapat Fhitung = 4,335 dengan peluang kesalahan 0,039, dan Ftabel  = 3,94 dengan taraf signikansi 5%. Karena Fhitung > Ftabel dan peluang kesalahannya lebih kecil dari taraf signifikansi 5% yang ditetapkan, maka dapat diambil keputusan bahwa H0 ditolak dan H1 diterima.

e.       Uji Hipotesis Kelima
H0: Interaksi µAXB = 0 (tidak ada pengaruh interaksi antara media pembelajaran dengan kebiasaan berbahasa terhadap hasil belajar kosakata bahasa Indonesia)
H1: Interaksi µAXB ≠ 0 (ada pengaruh interaksi antara media pembelajaran kosakata dengan kebiasaan berbahasa terhadap hasil belajar kosakata bahasa Indonesia).
Dari hasil perhitungan ANAVA didapat Fhitung = 3,133 dengan peluang kesalahan 0,079. Karena peluang kesalahan lebih besar dari taraf signifikansi yang ditetapkan yaitu 0,05, maka dapat diambil keputusan bahwa hipotesis nihil (H0) diterima.




BAB III
PENUTUP
Penelitian eksperimen merupakan penelitian yang dimaksudkan untuk mengetahui ada tidaknya akibat dari “sesuatu” yang dikenakan pada subjek selidik. Dengan kata lain penelitian eksperimen mencoba meneliti ada tidaknya hubungan sebab akibat. Caranya adalah dengan membandingkan satu atau lebih kelompok eksperimen yang diberi perlakuan dengan satu atau lebih kelompok perbandingan yang tidak menerima perlakuan.
Pelaksanaan penelitian eksperimen murni harus memenuhi persyaratan antara lain adanya perlakuan yang dapat dikontrol, adanya kelompok perbandingan dan adanya tes awal sebelum perlakuan di berikan. Jika kegiatan penelitian tidak memenuhi persyaratan seperti disebutkan maka penelitiannya disebut dengan penelitian pura-pura (quasi experiment)

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, Suharsimi : Prosedur Penelitian, Suatu Pendekatan Praktik, (Jakarta: Rineka Cipta, 2006)
Ayu Putri Ardhani. (2010). Keefektifan Penggunaan Media Anagram dalam Pembelajaran Kosakata Bahasa Indonesia bagi Siswa Kelas III SD. Tesis Magister, tidak diterbitkan. Universitas Negeri Yogyakarta, 2010.
Arikunto, Suharsimi : Manajemen Penelitian, (Jakarta: Rineka Cipta, 2000)
Domu, Ichdar : Bahan Kuliah Metodologi Penelitian, Program Studi Manajemen Pendidikan Pasca Sarjana Universitas Negeri Manado: 2009.
Emzir : Metodologi Penelitian Pendidikan, Kuantitatif dan Kualitatif, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2009)
Sugiyono : Metodologi Penelitian Pendidikan, Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D,( Bandung:  Alfabeta, 2009)
Agus Purwanto. (2008). Ayat-Ayat Semesta. Bandung: Mizan.
Sanapiah Faisal. (1982). Metodologi Penelitian Pendidikan. Surabaya: Usaha Nasional.
Sugiyono. (2005). Statistika untuk Penelitian. Bandung: Alfabeta.



[1] Suharsimi Arikunto, Manajemen Penelitian, (Jakarta: Rineka Cipta, 2000), hal.272.
[2] Emzir : Metodologi Penelitian Pendidikan, Kuantitatif dan Kualitatif, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2009), hal. 3
[3] Emzir : Metodologi Penelitian Pendidikan, Kuantitatif ,.hal. 152
[4]  Emzir : Metodologi Penelitian Pendidikan, Kuantitatif,. hal. 204
[5]http://budiboga.blogspot.com/2006/05/terong-terbukti-mampu-endongkrak . html

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar